Sabtu, 26 Mei 2012

FILSAFAT MANUSIA: Penerangan Eksistensi menurut Karl Jaspers (Oleh: Jani Anwar)



A. Pengantar
            Pada abad XIX ilmu pengetahuan dipandang sebagai segala-galanya, khususnya bagi kaum Positivisme sehingga filsafat juga dianggap sebagi salah satu dari ilmu pengetahuan. Maka segala sesuatu yang dianggap pribadi, individual atau unik dianggap tidak ilmiah. Dengan paham ini metafisika ditolak. Satu hal yang tidak dapat dibuktikan secara empiris dianggap bukanlah ilmiah dan tidak dapat diterima dalam ilmu pengetahuan sebagai kebenaram. Hal inilah yang dikritik oleh filsuf Karl Jaspers.[1] 
            Jaspers menganggap bahwa filsafat adalah gerak pemikiran yang tidak pernah berhenti. Gerak pemikiran ini menuntut manusia untuk memahami kenyataan sebagai satu hal yang harus dikenal dan dikatakan. Kenyataan itu adalah objek yang selalu terbuka bagi manusia untuk dikenal. Jaspers menyatakan pandangannya tentang ilmu pengetahuan bahwa hal-hal yang diketahui secara ilmiah merupakan tugas ilmu pengetahuan, sedangkan ilmu filsafat tidak relevan atas hal itu. Filsafat menjadi ilmu yang relevan jika dalam ilmu pengetahuan sudah sampai pada tahap ketidaktahuan.[2]
Menurut Jaspers, filsafat dimulai oleh manusia dengan mempelajari hasil ilmu-ilmu agar diketahui dimana batas yang dapat diketahui dan yang mana yang tidak dapat diketahui. Karena semakin banyak yang diketahui akan semakin banyak hal yang dipertanyakan. Dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul itu manusia akan mendapat dasar untuk eksistensinya. Manusia menjadi eksistensi karena pilihan yang bebas terhadap pertanyaan itu. Mengenai eksistensi manusia ini Jaspers membahasnya dalam satu bagian pada karyanya yaitu Penerangan Eksistensi. Mengenai penerangan eksistensi ini Jaspers mengaitkanya dengan Transendensi, karena menurutnya tidak ada eksistensi tanpa transendensi. Transendensi dimaksudkan Jaspers ialah untuk mengungkapkan Allah.[3]

B. Riwayat Hidup
Karl Jaspers lahir pada tanggal 23 Februari 1883 di Oldenburg, Jerman Utara. Dia adalah anak sulung dari Carl Wilhelm Jaspers dan Henriette. Ayahnya seorang ahli hukum dan direktur sebuah bank. Jaspers dididik dalam keluarga Protestan Liberal dan sekolah di Gymnasium di Oldenburg. Sepanjang hidupnya Jaspers menderita penyakit paru-paru bronchiectasis dan penyakit jantung cardiac decompensation. Karena penyakitnya ini Jaspers harus hidup dalam kedisplinan yang sungguh ketat sepanjang hidup sampai ia meninggal pada 26 Februari 1969 di Basel, Switzerland.[4]
Jaspers belajar hukum di Heidelberg dan Műnchen, kemudian meneruskan studi kedokteran di Berlin dan diselesaikannya di Heidelburg pada tahun 1908. Selain masalah kedokteran, Jaspers juga tertarik dengan masalah filosofis. Dia diangkat menjadi guru besar filsafat di Heidelburg pada tahun 1921. Akibat konflik yang terjadi di Jerman, pada tahun 1948 Jaspers dengan isterinya pindah ke Switzerland dan mengajar di Universitas Basel. Di sanalah Jaspers menutup kisah hidupnya dalam usia 86 tahun.[5]       

C. Penerangan Eksistensi
1. Eksistensi
Karl Jaspers memberikan satu defenisi mengenai filsafat eksistensi yang selalu diaggapnya benar. Menurutnya filsafat eksistensi itu adalah pemikiran manusia yang memanfaatkan semua pengatahuan objektif dan sekaligus juga mengatasi pengetahuan objektif tersebut. Dengan pemikiran itulah manusia mau menjadi dirinya sendiri yang menampakkan bahwa dia adalah mahluk eksistensi.[6]
Seperti dalam kata pengantar di atas sudah dikatakan bahwa ilmu pengetahuan pada abad XX dianggap adalah segala-galanya. Semua kebenaran harus dibuktikan oleh ilmu pengetahuan dengan cara empiris. Dalam ilmu pengetahuan manusia dipandang bukan sebagai pribadi yang unik melainkan objek ilmu pengetahuan. Manusia dijadikan sebagai data atau benda yang sama dengan yang lain. Manusia dianggap sama satu dengan yang lain tanpa ada keunikan diantaranya. Di sinilah Jaspers tidak setuju dengan paham itu dan dia menyatakan pahamnya tentang eksistensi manusia, yakni cara berada manusia yang khas. Cara berada manusia itu harus didekati dengan ilmu filsafat, bukan dengan cara ilmu pengetahuan. Jaspers menemukan keterbatasan dalam ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tidak mengerti arti dari cara berada manusia, nilai yang ada didalamnya dan tujuan dari manusia itu sendiri. Untuk memahami arti, nilai dan tujuan itu filsafat mendapat tugas untuk mengungkapkannya dan ini tak tergantikan oleh ilmu pengetahuan. Dengan filsafat, eksistensi manusia diterangi kearah eksistensi yang sejati.[7]

2.  Paham Karl Jaspers tentang Penerangan Eksistensi
Bagi Jaspers filsafat yang menjelaskan tentang penerangan eksistensi merupakan bagian yang penting. Sebab, dengan penerangan eksistensi manusia memahami dirinya sebagai mahluk yang bereksistensi yakni mengerti dan mencapai “aku” menurut intinya.[8]
Sejak awal Jaspers menerangkan eksistensi selalu behubungan dengan Transendensi. Tidak ada eksistensi tanpa transendensi. Bereksistensi, menurut Jaspers selalu berdiri di hadapan Transendensi. Transendensi itu menyembuyikan dirinya dari eksistensi manusia, yang menjadi dasar dari kebebasn manusia itu sendiri. Dengan paham ini, Jaspers mau mengatakan bahwa kebebasan manusia tidak hanya diberi lewat kebijaksanaan ilahi, tetapi juga melalui apa yang tersembunyi. Transendensi atau yang ilahi berbicara atau bertindak lewat tanda-tanda yang harus dipahami dan dikenal manusia dengan menafsirkannya. Dengan menafsirkan tanda-tanda itu serta bagaimana  cara manusia menyikapinya akan memberi dasar dari eksistensi manusia. Dengan menafsir dan memberi keputusan terhadapnya manusia menentukan menjadi apa dirinya untuk selama-lamanya. Filsafat eksistensi bukan hanya filsafat yang hanya merenungkan kebenaran, tetapi juga menghayati dan menghidupi kebenaran. Dengan ini yang hendak dikatakan Jaspers adalah kebenaran cara berpikir manusia dibuktikan oleh sikap dan tindakannya. Itulah dasar sebagai manusia yang bereksistensi.[9]
Tujuan dari penerangan eksistensi adalah agar setiap individu memahami dan menyadari bahwa dalam diri setiap manusia memiliki keunikan yang mebedakannya dari mahluk lain. Keunikan yang dimaksudkan adalah adanya kemungkinan bagi manusia untuk menentukan dirinya sendiri, karena eksistensi itu bersifat individual dan personal. Kemungkinanku sebagai sebagai pribadi bukanlah kemungkinan manusia lain, Karena apa yang ada dalam diriku menuju kepenuhan yang sejati dalam kebebasanku.[10]
Meski eksistensi memiliki kebebasan yang total, namun eksistensi harus dihayati dalam relasi dengan eksistensi yang lain. Harus ada komunikasi antara eksistensi yang satu dengan yang lain. Dengan demikian penerangan eksistensi membutuhkan komunikasi. Dengan adanya relasi dan komunikasi dengan eksistensi yang lainlah kebebasa dapat kita gunakan. Dalam relasi itu kita dapat memilih dan menyadari diri kita sendiri diantar yang lain. Dengan demikian penerangan eksistensi merupakan mengerti dan belajar menggunakan kebebasan untuk menjadi diriku yang sejati.[11] 

D. Kesimpulan
Pada abab XIX-XX ilmu pengetahuan dipandang sebagai segala-galanya. Metode empiris yang digunakan dianggap merupakan dasar dari satu kebenaran. Segala bidang hendak diukur dengan metode itu. Bahkan manusiapun didekati dengan metode empiris tersebut. Dengan pendekatan itu manusia dianggap hanyalah data dan objek dari ilmu pengetahuan sendiri. Maka, keunikan dan pribadi manusia tidak diakui. Padahal manusi tidak dapat didekati hanya dengan satu metode saja. Masih ada sisi lain yang harus dilihat dari manusia, karena manusia adalah mahluk yang berbeda dari mahluk yang lain, bahkan dengan sesama manusia sendiri.
Keunikan manusia inilah yang mau dipertahankan oleh Karl Jaspers. Manusia tidak bisa hanya didekati dengan metode empiris. Menurut Jaspers, manusia memiliki cara berada yang khas manusiawi yang membedakan manusia dengan  mahluk yang lain. Cara berada yang khas itu disebut eksistensi. Eksistensi itu lebihh diperjelas Jasper sendiri dengan pahamnya tentang Penerangan Eksistensi. Maksudnya manusia yang bereksistensi harus sadar akan kebebasanya dalam menentukan dirinya diantara eksistensi yang lain. Dengan sadar akan kebebasannya manusia akan mencapai eksistensinya yang sejati. Untuk sampai pada eksistensi yang sejati ini, manusia harus sanggup memahami tanda-tanda transendensi. Manusia tidak cukup hanya memahaminya, tetapi juga menghidupinya.



DAFTAR PUSTAKA

Hamersma. Harry, Filsafat Eksistensial Karl  Jaspers, Jakarta: Gramedia, 1985.
Wallraff. Charles F,  Karl Jaspers: An Introduction to His Philosophy, New Jersey: Princeton University Press, 1970.
Bartens. K, Filsafat Barat Abad XX, Jakarta: Gramedia, 1983.
Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: Kanisius,1980.


[1] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta: Kanisius,1980), hlm. 109.
[2] Harry Hamersma, Filsafat Eksistensial Karl  Jaspers, (Jakarta: Gramedia, 1985), hlm. 7.
[3] Harry Hamersma, Filsafat Eksistensi…, hlm . 7-8
[4] Charles F. Wallraff, Karl Jaspers: An Introduction to His Philosophy, (New Jersey: Princeton University Press,  1970) hlm. 3.
[5] Charles F. Wallraff, Karl Jaspers…, hlm. 6-7.
[6] Harry Hamersma, Filsafat Eksistensi…, hlm. 9.
[7] Harry Hamersma, Filsafat Eksistensi…, hlm. 7-8.
[8] K. Bartens., Filsafat Barat Abad XX, (Jakarta: Gramedia, 1983), hlm.132.
[9] Charles F. Wallraff, Karl Jaspers…, hlm. 182-183.
[10] K. Bartens., Filsafat Barat …,  hlm.133.
[11] K. Bartens., Filsafat Barat …,  hlm. 134.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar