Sabtu, 26 Mei 2012

Ringkasan: REDEMPTORIS MISSIO (Tugas Perutusan Sang Penebus) Oleh: Jani Anwar



Johanes Paulus II
Pengantar

           Tugas Perutusan Kristus Sang Penebus, yang dipercayakan kepada Gereja, masih jauh dari yang diharapkan. Tugas perutusan ini masih dalam tahap awal.  Atas nama Gereja merupakan suatu kewajiban yang mendesak bagi kami untuk menyerukan kembali seruan Santo Paulus tentang pemberitaan Injil.
              Konsili Vatikan II berusaha menekankan “Hakekat Misianer” Gereja, dengan melandaskannya pada tugas perutusan Tritunggal. Konsili telah menghasilkan banyak buah dalam bidang kegiatan misioner. Kehadiran komunitas-komunitas Kristiani semakin lebih jelas dalam kehidupan bangsa-bangsa dan persekutuan di antara Gereja-gereja telah menyebabkan mereka saling membagikan kekayaan rohani dan harta benda. Dari Kekristenan ini, ada suatu kecendrungan negatif yang tidak dapat dipungkiri, dan Dokumen ini dimaksudkan untuk membantu mengatsinya. Kami ingin mengajak Gereja untuk memperbaharui keterlibatan misionernya, yaitu pembaharuan iman dan kehidupan Kristen.
              Apa yang menggerakkan kami adalah kenyataan bahwa penginjilan itu merupakan pelayanan utama yang dapat disumbangkan Gereja kepada setiap orang dan kepada semua umat manusia dalam dunia medern. Alasan-alasan dan tujuan lain ialah untuk menanggapi permintaan yang banyak akan dokumen seperti ini, untuk menghilangkan keraguan dan kemenduaan dengan karya misioner kepada para bangsa, memperkuat saudara dan saudari yangb patut diteladani dalam keterlibatanya dalam karya misioner, membantu perkembangan panggilan misioner, dan lainnya. Semua ini hanya memiliki satu tujuan saja, yakni melayani manusia dengan menyingkapkan kepada mereka cinta kasih Allah yang nyata dalam diri Yesus Kristus.


BAB I
Yesus Kristus
Sang Penelamat Satu-Satunya

              Fungsi findamental Gereja di setiap zaman, dan terutama di zaman kita ini adalah mengarahkan pandangan, kesadaran, dan pengalaman seluruh bangsa manusia kepada misteri Kristus, dan membantu sekalian orang untuk mengenal dengan sungguh Penebus, Yesus Kristus. Tugas perutusan universal Gereja lahir dalam iman akan Yesus Kristus, sebagai mana dalam pengakuan iman kita yang bercorak Trinitas. Hanya dalam imanlah tugas perutusan Gereja dapat dipahami dan hanya di dalam imanlah tugas perutusan itu menemukan landasannya.
              Kristus-lah Penyelamat Tunggal bagi semua, satu-satunya Penyelamat yang mampu mewahyukan Allah dan menghantar kepada Allah. Dan keselamatan tidak ada dalam siapa pun juga, selain di dalam Dia, sebab keselamatan hanya bisa datang dari Yesus Kristus bagi semua orang, baik Yahudi maupun di luar Yahudi.
Dalam Injil santo Yohanes, universalitas keselamatan dalm kristus mncakup semua segi dari tugas perutusan rahmat, kebenaran, dan pewahyuannya. Pewahyuan Allah menjadi definitif dan penuh melalui Putra-Nya yang Tunggal. Pewahyuan Allah yang definitif ini merupakan alasan dasariah mengapa Gereja dari hakekatnya bercorak misioner.
              Gereja adalah mempelai Kristus, ahli waris pertama keselamatan yang di dalamnya Kristus berdiam dan melaksanakan tugas perutusan-Nya. Gereja percaya bahwa Allah telah menetapkan Kristus sebagai satu pengantara dan Gereja itu sendiri ditetapkan sebagai sakramen penyelamatan yang universal. Universalitas keselamatan berarti bahwa keselamatan itu tidak dianugerahkan hanya kepada orang yang percaya akan Kristus dan telah masuk anggota Gereja, tetapi keselamatan ditawarkan secara nyata kepada semua orang. Rahmat ini membuat setiap orang mampu mencapai keselamatan brkat kerjasama mereka yang bebas dengan rahmat tersebut. Karena alasan inilah  Konsili, setelah menegaskan Misteri Paskah, lebih lanjut mengatakan bahwa ini tidak saja berlaku hanya bagi orang Kristen, tetapi juga bagi semua orang yang berkehendak baik.
              Dengan menghormati kepercayaan dan kepekaan dari semua pihak, pertama kita harus menegaskan iman kita akan Kristus, yang telah kita terima sebagai karunia dari tempat tinggi, dan bukan dari kerja dan usaha sendiri.


BAB II
Kerajaan Allah

              Kristus merupakan perwahyuan dan penjelmaan dari Allah Bapa. Keselamatan berarti percaya dan menerima misteri Bapa dan misteri cinta-Nya yang dinyatakan dalam Yesus melalui Roh. Dengan cara ini Kerajaan Allah akhirnya terpenuhi, dilaksanakan di dalam Kristus dan oleh Kristus.
              Yesus menerima roh Kudus setelah pembabtisan-Nya, memperjelas panggilan mesianis-Nya. Yesus sendirilah “Kabar Baik” itu sebagai mana dinyatakan Yesaya tentang Orang Yang Terurapi itu , yang diutus oleh Roh Tuhan. Dia memberitakan “Kabar Baik” tidak hanya dengan perkataan dan perbuatan-Nya saja, melainkan dengan dirinya sebagai mana adanya.
              Kerajaan yang didirikan oleh Yesus adalah Kerajaan Allah, yesus sendiri mewahyukan siapa Allah yang disapa-Nya dengan sebutan mesra “Abba”. Secara perlahan Ia menyingkapkan ciri-ciri dan tuntutan-tuntutan dari Kerajaan itu melalui kata-kata, tindakan dan diri pribadi-Nya sendiri. Ada dua hal yang menjadi ciri khas dari tugas perutusan Yesus, yaitu menyembuhkan dan mengampuni. Dengan melakukan tindakan penyembuhan, Dia mengundang orang untuk percaya, bertobat dan merindukan pengampunan.begitu ada iman, penyembuhan merupakan suatu dorongan yang tertuju pada penyelamatan.
              Dengan membangkitkan Yesus dari kematian, Allah telah mendirikan kerajaan-Nya secara definitif. Penderitaan, Kebangkitan, dan Kenaikan-Nya ke surga ikut ambil bagian dalam daya kekuatan Allah dan di dalam kekuasaan-Nya atas dunia. Para murid mengakui bahwa Kerajaan itu sudah hadir dalam diri Yesus.
             
BAB III
Roh Kudus Pelaku Utama Tugas Perutusan

              Pada puncak perutusan mesianis Yesus, Roh Kudus hadir dalam Misteri Paskah yang kini melanjutkan karya penyelamatan yang berakar dalam korban Salib. Yesus mempercayakan ini kepada umat manusia, yaitu para Rasul dan kepada Gereja. Melalui mereka Roh Kudus tetap merupakan pelaku utama dan transenden. Kristus mengeutus miliknya sendiri ke dunia, sebagai mana Bapa mengutus Dia, dan pad akhirnya Dia memberikan kepada mereka Roh-Nya.
              Sesudah Kebangkitan dan Kenaikan Yesus, para rasul memiliki suatu pengalaman yang kaut yang sama sekali mengubah mereka. Datangnya Roh Kudus telah membuat mereka menjadi saksi-saksi dan nabi-nabi. Roh memenuhi mereka dengan keberanian yang tenang yang mendorong mereka menyampaikan kepada orang lain pengalaman mereka akan Yesus serta harapan yang menggerakkan mereka.
              Roh mengantar orang beriman membentuk suatu persekutuan menjadi Gereja. Salah satu tujuan sentral tugas perutusan adalah mengumpulkan orang-orang untuk mendengarkan Injil, dalam persekutuan persaudaraan, dalam doa, dan dalam Ekaristi. Hidup dalam persekutuan persaudaraan berarti menjadi sehati sejiwaserta membangun persahabatan dalam segala segi. Persekutuan yang pertama terdiri atas hati yang gembira dan tulus, terbuka dan bercorak misioner.
              Roh menyatakan dirinya sendiri secara khusus dlam para anggotanya. Namun, kehadirannya dan kegiatannya itu bersifat universal, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Roh memberikan kepada umat manusia terang dan kekuatan untuk menanggapi panggilannya yang teramat luhur. Kegiatan dan kehadiran Roh itu mempengaruhi masyarakat dan sejarah, bangsa-bangsa, kebudayaan dan agama. Roh itu brada di asal- muasal cita-cita dan usaha luhur yang bermanfaat bagi umat manusia dalam perjalanannya sepanjang sejarah. Sejarah umat manusia, telah banyak mengetahui hal yang utama yang mendorong penyebarluasan karya misioner, dan Gereja senantiasa dituntun oleh Roh. Skarang ini Gereja harus menghadapi tantangan-tantangan lain dan bergerak maju terus menuju hal-hal yang baru, baik dalam tugas perutusan pertama kepada para bangsa, maupun dalam penginjilan baru terhadap orang-orang baru yang telah mendengar warta tentang Kristus.

BAB IV
Luasnya Cakrawala
Tugas Perutusan kepada Para Bangsa
(Ad Gentes)
             
              Tuhan mengutus Para Rasul-Nya kepada setiap orang, bangsa, dan tempat di bumi. Dalam para Rasul Gereja memperoleh tugas universal suatu yang tidak mengenal batas-batas apapun yng menyangkut penyampaian keselamatan dalam keutuhannya menurut kepenuhan hidup yang dibawa oleh Kristus sendiri. Tugas perutusan ini adalah sattu dan tak terbagikan karena memiliki satu asal dan satu tujuan akhir.
              Dewasa ini kita menghadapi suatu situasi keagamaan yang sangat bervariasi dan berubah-ubah. Kenyataan-kenyataan sosial dan keagamaan yang semula jelas dan dirumuskan dengan baik, dewaa ini semakin bertambah rumit saja. Kekhwatiran ini memperlihatkan adanya suatu perubahan yang nyata yang memiliki suatu segi positif kembalinya berbagai bentuk tugas- tugas perutusan ke dalam perutusan Gereja.
              Tugas perutusan kepada para bangsa menghadapi suatu kewajiban yang sangat besar, yang sama sekali tidak akan lenyap, dari sudut angka perkembangan jumlah penduduk, maupun dari sudut sosio-budaya berupaya munculnya hubungan-hubungan  dan konyak-kontak yang baru serta situasi yang berubah tugas perutusann nampaknya memiliki suatu cakrawala yang lebih luas.
              Berdasarkan perintah universal dari Kristus maka tugas perutusan kepada para bangsa tidak mengenal batas-batas. Gereja tidak mau membiarkan kehadiran misionernya dihalangi oleh batas geografis atau pun rintangan politis. Tetapi adalah benar juga bahwa keguatan misioner  kepada para bangsa yang berbeda dengan reksa pastoral kaum beriman dilaksanakan dalam wilayah dan kelompok orang yang jelas batas-batasnya.
              Gereja mesti setia kepada Kristus, karena Gereja adalah Tubuh-Nya dan penerus tugas perutusa-Nya. Gereja tidak bisa tidak harus menempuh jalan yang sam, yang dilalui Kristus yaitu jalan kemiskinan, ketaatan, pelayanan ,dan pengurbanan diri sampai mati. Maka Gereja diharuskan untukmelakukan segala sesuatu yang mungkin untuk melaksanakan tugas perutusanya di dunia untuk mencapai segala bangsa.      
               
BAB V
Lorong-Lorong yang Ditempuh Tugas
Perutusan
             
              Bentuk kesaksian yang pertama ialah kehidupan dari para misioner sendiri, dan keluarga Kristen, dan dari persekutuan Gereja yang menyingkapkan suatu cara hidup yang baru. Misionaris yang menghayati hidup sederhana dengan mengambil Kristus sebagai model, yang merupakan tanda dari Allah dan tanda dari realitas transenden. Kesaksian injili, yang paling bmnerik bagi dunia adalah perhatian terhadap orang-orang, dan menaruh cinta kasih terhadap orang-orang miskin, yang lemah, dan yang menderita.
              Gereja dipanggil untuk memberi kesaksian tentang Kristus dengan mengambil sikap yang berani dan profetis, di hadapan kelaliman penguasa politik atau penguasa ekonomi dengan mencari kemuliaan dan kekayaan sendiri.pewartaan tetaplah merupakan prioritas dari tugas perutusan. Gereja tidak dapat mengindari perintah yang jelas dari Kristus, atau pun tidak dapat memisahkan orang dari “Kabar Baik” tentang kenyataan bhwa mereka dicintai dan diselamatkan Allah.
              Dalam kenyataan tugas yang sulit itu, pewqarta awal memiliki peranan yang sentral dan tiada tergantikan, oleh klarena pewarta awal itu memperkenalkan manusia ke dalam misteri cinta kasih Allah. Inti pokok dari pewartaan adalah Kristus yang disalibkan, wafat, dan bangkit, melalui Dia kita benar-benar dibebaskan secara penuh dari kejahatan, dosa, dan kematian, dan melalui Dia, Allah memberikan hidup yang baru, yaitu hidup ilahi dan abadi.
              Pertobatan kepada Kristus digabungkan dengan Pembabtisan. Hal ini bukan disebabkan karena peraktek Gereja belaka, melainkan juga karena kehendak Kristus sendiri yang mengutus para Rasul untuk menjadikan seluruh bangsa mejadi murid dan membabtis mereka. Pertobatab digabungkan dengan Pembabtisan juga karena kebutuhan intrinsik untuk menerima kepenuhan hidup yang baru di dalam Kristus. Semua ini perlu dikatakan oleh karena tidak sedikit orang dalam daerah-daerah yang tercakup dalam tugas perutusan kepada para bangsa cendrung memisahkan pertobatan kepada Kristus dari Pembabtisan, dengan memandang Pembabtisan itu tidak trlalu perlu.
              Pertobatann dan Pembabtisan membuka jalan masuk ke dalam Gereja yang sudah ada ataupun memerlukan dibangunnya komunitas-komunitas baru yang mengakui Yesus sebagai Penyelamat dan Tuhan. Ini merupakan tujuan dari tugas perutusan kepada para bangsa, yakni mendirikan komunitas Kristen dan mengembangkan Gereja menuju kematangannya yang penuh.
              Dengan mengadakan kegiatan misioner, Gereja berjumpa dengan kebudayaan yang berbeda dan terlibat dalam proses inkulturasi. Proses masuknya Gereja ke dalam kebudayaan para bangsa adalah suatu proses yang panjang. Suatu transformasi nilai-nilai kebudayaan otentik secara mendalam melalui proses integrasi mereka ke dalam Kekristenan dan meresapnya Kekristenan ke dalam berbagai klebudayaan umat manusia. Melelui inkulturasi,Gereja menjelmakan Injil dalam kebudayaan yang berbeda-beda yang serentak membawa masuk para bangsa bersama dengan kebudayaan mereka ke dalam persekutuan Gereja sendiri.
              Selain itu, ada dialog antar-agama yang merupakan bagian dari misi penginjilan Gereja. Jika dipahami sebagai metode dan sarana-sarana untuk saling memperkaya dan saling mengenal maka dialog ini tidak bertentagan dengan tugas perutusan kepada para bangsa. Dalam Kristus, Allah memanggil semua orang kepada dirinya sendiri dan Ia ingin membagikan kepenuhan dari pewahyuan seta cinya-Nya dengan mereka. Dialog dituntut oleh suatu rasa hormat yang mendalam akan segala sesuatu yang telah dihasilkan dalam diri umat manusia oleh Roh yang bertiup kemana saja dikehendakinya. Melalui dialog, Gereja berusaha menemukan benih-benih Sabda, suatu percikan sinar yang memantulkan cahaya Kebenaran yang menerangi semua manusia.       

BAB VI
Para Pemimpin dan Para Pekerja
Dalam Kerasulan Misioner
             
              Keduabelas rasul merupakan orang-orang pertama yang harus bekerja dalam tugas perutusan universal Gereja. Mereka merupakan kelompok kolegial dari tugas perutusan itu. Mereka telah dipilih Yesus untuk hidup bersama-Nya dan untuk diutus kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Di samping para Rasul, ada juga tokoh-tokoh lain yang lebih kecil yang hendaknya tidak boleh diabaikan begitu saja. Kelompok ini mencakup individu-individu, kelompok dan persekutuan. Gereja perdana menghayati tugas perutusannya sebagai sebagai tugas persekutuan, dengan mengakui di tengah-tengah mereka misionaris yang dikhususkan kepada orang-orang bukan Yahudi.
              Apa yang telah dilakukan pada permulaan Kekristenan untuk mengembangkan tugas perutusan universalnya, sekarang ini masih tetap sah dan mendesak. Gereja dari kodratnya bersifat misioner, oleh karena itu perintah Kristus bukanlah suatu yang tergantung, tetapi merupakan inti terdalam dari Gereja.
              Tepat sebagaimana Tuhan Yang Bangkit memberikan perintah misioner universal kepada Para Rasul dengan Petrus sebagai pemimpinnya, demikian juga tanggungjawab yang sama ini terutama terletak pada pundak para Uskup, yang dikepalai oleh pengganti Petrus. Para Uskup bertanggungjawab atas penginjilan dunia, baik sebagai anggota para Uskup, juga sebagai Gembala Gereja setempat. Penyelenggaraan pewartaan Injil di seluruh dunia merupakan kewajiban badan para Gembala, yang semuanya bersama-sama menerima perintah Kristus.
              Setiap Uskup sebagai Gembala dalam Gereja setempat, mempunyai suatu kewajiban misioner yang tebentang luas. Dialh yang bertugas sebagai pemimpin dan pusat kesatuan kerasulan keuskupan, untuk memajukan, memimpin dan mengkoordinasi kegiatan misioner.
              Meskipun setiap murid Kristus mengemban beban untuk menyiarkan iman sekedar kemampuannya, Kristus Tuhan dari antara murid-murid-Nya selalu memanggil mereka yang dikehendaki-Nya, untuk tinggal bersama dengan-Nya, dan untuk diutus mewartakan Injil kepada para bangsa. Karena itu apa yang tercakup disini adalan suatu Panggilan khusus yang dipolakan berdasarkan pada panggilan Para Rasul. Panggilan khusus dari para misionaris ini merupakan model dari keterlibatan misioner Gereja, yang senantiasa yang masih tetap membutuhkan penyerahan diri yang sepenuhnya.
              Sebagai rekan sekerja para Uskup, para imam dipanggil berdasarkan pada Sakramen Tahbisan Imamat untuk ikut ambil bagian dalam kepedulian akan tugas perutusa Gereja. Anugrah rohani yang diterima para imam dalam tahbisan tidak mempersiapkam mereka untuk satu utusan yang lebih sempit, melainkan untuk perutusan keselamatan yang sangat luas dan universal. Karena alasan inilah, didikan para calon imam mesti diserahkan pada usaha memberikan mereka jiwa yang benar katolik.
              Dari kekayaan roh yang berkelimpahan dan beraneka ragam, keluarlah panggilan untuk Lembaga Hidup Bakti, yang para anggotanya membaktikan diri kepada pelayanan Gereja dengan pengudusan dirinya berkewajiban untuk berkarya secara khusus dalam kegiatan misioner. Konsili mengundang Lembaga Kontemplatif untuk membangun komunitas di Gereja-gereja muda, supaya memberikan kesaksia yang cemerlang di antara umat yang bukan Kristen. Kehadiran ini bermanfaat di seluruh dunia non-Kristen, khususnya di wilayah  dimana tradisi keagamaan sangat menjunjung tinggi hidup kontemplatif.
              Seluruh umat berkewajiban melaksanakan tugas perutusan kepada para bangsa. Kaum awam, sebagai pribadi, keluarga, dan seluruh persekutuan ikut ambil bagia dalam tugas menyebarluaskan iman. Perlunya semua kaum beriman ikut ambil bagian dalam tanggungjawab ini bukanlah soal usaha untuk lebih mengefektifkan kerasulan saja. Ini adalah hak dan kewajiban ya g dilandaskan pada martabat permandian mereka. Melalui permandian itu kaum awam beriman berpartisipasi, demi bagian mereka di dalam perutusan rangkap tiga dari Kristus, yaitu Imam, Nabi, dan Raja.
              Di antara kaum awam yang menjadi penginjil, para katekis memnduduki tempat yang terhormat. Dekrit tenteng Kegiatan Misioner Gereja berbicara tentang mereka sebagai barisan yang pantas dipuji, yang berjasa begitu besar dalam karya misioner di antara para bangsa, yakni barisan para katekis yang dijiwai semangat merasul. Perluasan pelayanan yang diberikan oleh awam baik di dalam maupun di luar Gereja, kebutuhan akan pelayanan dari para katekis tetap selalu ada. Katekis-katekis adalah spesialis, orang yang memberikan kesaksian langsung dan para penginjil yang tiada tergantikan, yang sebagaimana sering diungkapkan dalam perjalanan-perjalanan misioner, memperlihatkan kekuatan dasariah dari komunitas-komunitas Kristen, khususnya dalam Gereja-gereja yang muda.  Disamping katekis-katekis, mesti disebut juga cara-cara lain untuk melayani Gereja dan tugas perutusannya, yaitu petugas Gereja yang lain.






BAB VII
Kerja-Sama dalam Kegiatan Misioner

              Kerjasama misioner berakar dan hidup, terutama dalam persatuan pribadi denga Kristus. Karen aitu hal ikut ambil bagian dalam tugas perutusan uiversal tidaklah terbatas pada kegiatan-kegiatan spesifik tertentu saja, melainkan merupakan suatu tanda kematangan di dalam iman dan kehidupan Kristen yang menghasilkan buah. Kerjasama itu terutama sekali diungkapkan dengan memajukan panggilan-panggilan misioner, bahwa keterlibatan yang penuh dan berlaku seumur hidup terhadap karya perutusan mendapat tempat kedudukan yang pertama, khususnya dalam lembaga-lembaga dan kongregasi-kongregasi. Tugas-tugas perutusan terutama sekali dilaksanakan oleh pria dan wanita yag berbakti sepanjang hidup kepada karya Injil dan dipersiapkan untuk pergi keseluruh dunia membawa keselamtan.
              Hari Misi se-Dunia yang berusaha mempertinggi kesadaran akan tugas-tugas perutusan, juga untuk mengumpulkan dana bagi karya misi itu, merupakan suatu tanggal yang penting bagi kehidupan Gereja.
              Sekarang ini, kerjasama meliputi bentuk-bentuk baru tidak hanya ekonomis saja, melainkan juga berupa partisipasi langsung. Pariwisata internasional sekarang ini telah menjadi suatu fenomena masal yang merupakan suatu perkembangan yang positif yang jika para wisatawan itu memelihara suatu sikap hormat dan kerinduan akan hal saling memperkaya kebudayaan timbal-balik, dengan menghindarkan sikap yang berlagak-lagak dan gaya hidup memboros, dan dengan berusaha membina hubungan dengan orang lain.
              Mengunjungi tanah misi merupakan suatu tindakan yang patut dipuji, khususnya bagi pihak kaum muda yang pergi ke san untuk melayani dan memperoleh suatu penglaman yang padat tentang kehidupan Kristen. Kerjasama misioner dapat juga melibatkan para pemimpin politik, ekonomi, kebudayaan dan kewartawanan, juga para ahli dari berbagai badan internasional. Ada satu saling ketergantungan yang sedang meningkat antara para bangsa, dan hal ini merupakan suatu rangsangan bagi kesaksian dan penginjilan Kristen.
              Pembinaan misonaris merupakan tugas Gereja setempat dan tidak boleh dipandang sebagai kary asampingan belaka, melainkan sebagai suatu katya sentral bagi kehidupan Kristen. Denga memandang tujuan ini, terasa perlulah menyebarluaskan informasi melalui penerbitan-penerbitan misioner dan bantuan-bantuan saran audiovisual. Pembinaan semacam itu dipercayakan kepada para imam dam rekan sekerjanya, kepada para pendidika dan para guru, dan kepada para teolog, teristimewa kepada mereka yang mengajar di seminari-seminari dan di pusat-pusat pembinaan kaum awam.
              Kegiatan-kegiatan yang diarahkan untuk memajukan minat terhadap tugas-tugas perutusa mesti senantiasa disesuaikan dengan tujuan khusus ini, yaitu memberikan informasi dan membentuk Umat Allah auntuk ikut ambil bagian di dalam tugas perutusan Gereja memajukan panggilan kepada para bangsa. Peranan penting di dalam karya yang mengusahakan kemajuan ini, terletak pada Serikat-serikat Kerasulan Kepausan. Oleh karena itu mereka berada di bawah bantuan Paus dan Kerekanan Para Uskup. Tujuan lain dari serikat ini ialah membantu mendorong panggilan sepanjang hidup untuk mengabdi kepada para bangsa dalam Gereja yang lebih tua dan yang muda.
              Bekerjasama dalam kegiatan misioner tidak hanya sekedar memberi saja melainkan juga menerima. Kami mendesak semua Gereja dan para Uskup, imam-imam, dan biarawan-biarawan dan para awam, agar bersikap terbuka terhadap ciri universal dari Gereja, dan agar menghadirkan sertiap bentuk kedaerahan dan ketertutupan.
              Dan lain pihak,  Gereja-gereja muda lebih memusatkan perhatian merka pada identitas diri mereka sediri, inkulturasi, dan kebebasan mereka untuk bertumbuh terlepas dari pengaruh-pengaruh luar dengan kumungkinan akibat bahwa mereka akan menutup pintu-pintu mereka kepada para misionaris.
              Allah sedang mempersiapkan suatu musim semi yang agung bagi Kekristenan, dan kita sudah dapat melihat tanda-tanda yang pertama. Orang-orang secara perlahan-lahan bergerak semakin lebih mendekat kepada cita-cita dan nilai-nilai Injil, suatu perkembangan yang didorong oleh Gereja. Kita mesti meningkatkan semangat kerasulan kita untuk meneruskan kepada orang-orang lain cahaya dan kegembiraan iman. Seluruh umat Allah mesti dididik menuju kepadacita-cita yang tinggi ini.




BAB VIII
Spiritualitas Misioner
                   Kegiatan misioner memerlukan suatu spirituakitas khusus, yang teristimewa diterapkan pada semua orang yang telah dipanggil Allah untuk menjadi misionaris-misionaris. Spiritualitas ini pertama-tama diungkapkan dengn suatu hidup yang benar-benar taat-setia kepada Roh. Spiritualitas inilah yang mendorong kita untuk siap sedia dibentuk dari dalam oleh Roh. Adalah tidak mungkin memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus tanpa mencerminkan citra-Nya, dihidupkan kembali di dalam diri kita berkat rahmat dan kekuatan Roh.
              Tugas perutusan itu sulit dan rumit, dan menuntut keberanian dan penerangan dari Roh. Sekarang, sebagaimana juga pada waktu itu, kita mesti memohon semoga Allah memberikan kita keberanian di dalam memberitakan Injil. Kita mesti mempertimbangkan cara-cara ajaib dari Roh dan membiarkan diri kita sendiri dituntun olehnya ke dalam segala kebenaran.
              Suatu corak esensial dar spiritualitas misioner adalah persatuan akrab-mesra degan Kristus. Hendaklah kamu dalam hidup bersama, menaru pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walau pun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan tealh mengosaongkan diri-Nya sendiri, mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama dengan manusia, merendahkan diri da bahkan mati dikayu salib.
               Misionaris dituntut menyangkal dirinya dan segala sesuatu yang hingga kini dianggap miliknya, dan menjadikan dirinya segala-galanya untuk semua orang. Maka misionaris mengalami kehadiran dari Kristus yang membawa penghiburan yang menyertai dia pada setiap saat kehidupannya.
              Spiritualitas misionaris juga ditandai oleh cinta kasih apostolik, cinta kasih Kristus yang datang untuk megumpukandan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai, cinta kasih sang Gembala mengenal domba-dombanya, sebagaimana dilakukan duldu oleh Yesus Kristus. Misionaris itu didorong oleh semangat cinta akan jiwa-jiwa, suatu semangat yang dijiwai oleh cinta klasih Kristus sendiri. Misionaris adalah manusia cinta. Untuk membertikan kepada semua saudara dan saudarinya bahwa mereka dicintai Allah dan manpu mencintai, dia mesti memperlihatkan kepada semua, dengan memberikan hidupnya bagi sesamanya. Misioanaris adalah saudara universal yang mengemban di dalam dirinya sendiri Roh Gereja, keterbukaanya terhadap dan perhatiannya kepada semua orang dan individu-individi, khususnya yang terkecil dan termiskin. Akhirnya seperti Kristus, dia mesti mencintai Gereja. Hanya cinta yang mendalam akan Gereja dapat menopang semangat seorang misionaris. Bagi setiap misionaris kesetiaan kepada Kristus tidak dapat dipisahkan dari kesetiaan kepada Gereja. Seorang misionaris adalah manusia seturut gambar Sabda Bahagia. Misionaris mengalami dan menunjukkan secara konkret bahwa kerajaan Allah itu sudah datang dan bahwa dia telah menerimanya.         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar